Pola berbagai macam gerakan lingkungan fariez  at:  04/10/2005  

Ketika Tuhan hendak mengutus makhluqNya untuk menjadi wakilNya di dunia, tak satupun makhluqNya yang berani memikul tanggung jawab ini. Tapi manusia memberanikan diri untuk menjadi penghuni bumi. Kenapa manusia mau menerimanya? Kelebihan manusia dibandingkan makhluq Tuhan yang lainnya adalah mempunyai akal dan fikiran. Melalui kedua perangkat ini manusia mampu membedakan antara yang baik dan buruk serta yang benar dan yang salah.  Kemampuan yang dipunyai inilah yang dipakai untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan belajar dari pengalaman.


Seiring berjalannya zaman dan perkembangan dunia, tatanan nilai masyarakat juga mengalami perubahan. Dalam paham antroposentrisme bicara mengenai hubungan antara manusia dengan lingkungan atau alam semesta dengan bagaimana perilaku manusia yang seharusnya terhadap lingkungan. Etika lingkungan inilah yang kemudian menjadi bagian dari komunitas moral masyarakat.


Menurut Usman(2003) pada kenyataannya hubungan antara manusia dengan alam tidaklah selalu harmonis, malah seringkali menimbulkan kerusakan. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana bencana di Aceh begitu dahsyatnya, banjir banding di Bukit Langsa Sumatra Utara, dan lain-lain yang semuanya itu terjadi baik karena fenomena alam sendiri maupun perbuatan manusia.


 


ˇ°GERAKAN LINGKUNGANˇ±


Pada awal kemunculannya, lingkungan tidaklah menjadi isu yang dominant dan menarik untuk didiskusikan. Hanya orang-orang tertentu yang katanya intelektual dan terpelajar saja yang peduli pada isu lingkungan. Gerakan lingkungan marak terjadi pada akhir-akhir ini saja dan biasanya gerakan berbasis masyarakat perkotaan. Gerakan yang mereka susun teratur secara sistematik dengan cara-cara yang elegan. Sasarannya pun langsung pada sipembuat kebijakan, dalam hal ini bisa berarti pemerintah karena ini akan berpengaruh dalam jangka panjang.


Gerakan lingkungan pada abad 19-an menganut paham Konservasionisme. Yaitu gerakan yang berfokus pada perlindungan spesies tertentu yang jumlahnya mulai menurun, seperti kelompok Greenpeace yang memperjuangkan perlindungan pada ikan paus dan anjing laut.


Menurut Ton Dietz, ideology gerakan lingkungan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu ecofasism, eco-developmentalism, dan ecopopulism. Ketiga macam ideology yang berbeda tersebut tentu akan melahirkan kebijakan dan tindakan yang berbeda pula dalam memperjuangkan lingkungan. Penekanan ecofasisme pada kelestarian lingkungan semata. Para penganut paham ini akan mengambil resiko apapun karena mereka juga ditopang oleh kekuatan militer dan hokum. Bahkan kalau perlu bila ada kelompok masyarakat yang mendiami suatu kawasan konservasi akan mereka usir meskipun mereka sudah berabad-abad menetap di kawasan tersebut.



 


Diambil dari Simba suara rimba bulletin 2 mingguan LISIKAL edisi 1 Februari 2005

     Tell A Friend (0) - Comments     

     Keragaman hayati Indonesia : Realitas yang berkembang fariez  at:  04/10/2005  

Makna keragaman hayati mencakup keragaman ekosistem (habitat), keragaman spesies (jenis) dan keragaman genetika (keragaman sifat dalam satu spesies). Ada dua hal yang setidaknya melandasi perlunya keragaman hayati dilindungi. Pertama, dari sisi etik, tumbuhan dan hewan juga makhluk hidup yang punya hak untuk melangsungkan hidupnya tanpa gangguan. Kedua, keanekaragaman hayati memegang peranan penting dalam keberlanjutan kehidupan di permukaan bumi. Keanekaragaman hayati adalah dasar stabilitas sosial dan ekologi. Tanpa keragaman system social, maupun system ekologi, makan sistem-sistem kehidupan yang lain akan mudah rusak.


Keragaman hayati yang paling tinggi terdapat di Negara-negara dunia ketiga yang kebanyakan berda di daerah tropic. Indonesia misalnya, menjadi salah satu Negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia sehingga sering diebut Negara megabiodiversity. Meskipun wilayah darat Indonesia hanya 1,3 persen dari seluruh wilayah darat dunia, namun didalamnya terkandung 10 persen dari spesies tanaman dunia, 12 persen dari spesies mamalia, 16 persen dari spesies reptile dan amphibi, dan 17 persen dari spesies burung (Barber dkk, 1997). Selain kekayaan di atas, Indonesia juga memiliki hutan mangrove yang juga menjadi salah satu kawasan terluas di dunia.


Kondisi yang berkembang sekarang menunjukkan keragaman hayati mulai mengalami berbagai erosi. Perusakan habitat mengganggu ekosistem yang pada gilirannya mengganggu spesie yang hidup di dalamnya.


Eksploitasi flora dan fauna yang berlebihan baik karena perburuan ataupun kepentingan lainnya menimbulkan kelangkaan dan kepunahan jenis. Sementara penyeragaman varietas tanaman dan ras hewan budidaya menimbulkan erosi genetic. Diperkirakan lebih dari 126 burung, 63 mamalia, 21 reptile, serta 65 spesies hewan Indonesia lainnya terancam punah.



 


Tulisan karya Jhanny T. Raharjo, (Ketua Umum LISIKAL) yang dimuat dalam Gardu Rimba Buletin LEM Fakultas Kehutananb UGM edisi special April 2005

     Tell A Friend (0) - Comments     

     Selamat datang fariez  at:  28/09/2005  

Ini merupakan halaman artikel forest e-zine. anda dapat memberi komentar pada tiap artikel dan berita yang dimuat di sini. Untuk pengiriman artikel silahkan menghubungi saudara Jani MH'03 atau kirim ke lisikal_ugm@yahoo.com


terima kasih.

     Tell A Friend (0) - Comments     

RSS Feed


Powered By ASP News