|
Ketika Tuhan hendak mengutus makhluqNya untuk menjadi wakilNya di dunia, tak satupun makhluqNya yang berani memikul tanggung jawab ini. Tapi manusia memberanikan diri untuk menjadi penghuni bumi. Kenapa manusia mau menerimanya? Kelebihan manusia dibandingkan makhluq Tuhan yang lainnya adalah mempunyai akal dan fikiran. Melalui kedua perangkat ini manusia mampu membedakan antara yang baik dan buruk serta yang benar dan yang salah. Kemampuan yang dipunyai inilah yang dipakai untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan belajar dari pengalaman.
Seiring berjalannya zaman dan perkembangan dunia, tatanan nilai masyarakat juga mengalami perubahan. Dalam paham antroposentrisme bicara mengenai hubungan antara manusia dengan lingkungan atau alam semesta dengan bagaimana perilaku manusia yang seharusnya terhadap lingkungan. Etika lingkungan inilah yang kemudian menjadi bagian dari komunitas moral masyarakat.
Menurut Usman(2003) pada kenyataannya hubungan antara manusia dengan alam tidaklah selalu harmonis, malah seringkali menimbulkan kerusakan. Masih segar dalam ingatan kita bagaimana bencana di Aceh begitu dahsyatnya, banjir banding di Bukit Langsa Sumatra Utara, dan lain-lain yang semuanya itu terjadi baik karena fenomena alam sendiri maupun perbuatan manusia.
ˇ°GERAKAN LINGKUNGANˇ±
Pada awal kemunculannya, lingkungan tidaklah menjadi isu yang dominant dan menarik untuk didiskusikan. Hanya orang-orang tertentu yang katanya intelektual dan terpelajar saja yang peduli pada isu lingkungan. Gerakan lingkungan marak terjadi pada akhir-akhir ini saja dan biasanya gerakan berbasis masyarakat perkotaan. Gerakan yang mereka susun teratur secara sistematik dengan cara-cara yang elegan. Sasarannya pun langsung pada sipembuat kebijakan, dalam hal ini bisa berarti pemerintah karena ini akan berpengaruh dalam jangka panjang.
Gerakan lingkungan pada abad 19-an menganut paham Konservasionisme. Yaitu gerakan yang berfokus pada perlindungan spesies tertentu yang jumlahnya mulai menurun, seperti kelompok Greenpeace yang memperjuangkan perlindungan pada ikan paus dan anjing laut.
Menurut Ton Dietz, ideology gerakan lingkungan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu ecofasism, eco-developmentalism, dan ecopopulism. Ketiga macam ideology yang berbeda tersebut tentu akan melahirkan kebijakan dan tindakan yang berbeda pula dalam memperjuangkan lingkungan. Penekanan ecofasisme pada kelestarian lingkungan semata. Para penganut paham ini akan mengambil resiko apapun karena mereka juga ditopang oleh kekuatan militer dan hokum. Bahkan kalau perlu bila ada kelompok masyarakat yang mendiami suatu kawasan konservasi akan mereka usir meskipun mereka sudah berabad-abad menetap di kawasan tersebut.
Diambil dari Simba suara rimba bulletin 2 mingguan LISIKAL edisi 1 Februari 2005
|